HUKUM HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN PEREMPUAN DI BULAN RHAMADAN

Puasa pada bulan Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan dan merupakan salah satu rukun Islam dan bangunannya yang agung.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” [ Al-Baqarah: 183 ]

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda,

بُنِيَالْإِسْلاَمُعَلىَخَمْسٍشَهَادَةِأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللهُوَأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُوَإِقَامِالصَّلاَةِوَإِيْتَاءِالزَّكَاةِوَحَجِّالْبَيْتِوَصَوْمِرَمَضَانَ.

“Islam itu dibangun atas lima perkara: syahadat Laa Ilaaha Illallaah wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluhu, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke Al-Bait (Ka’bah) dan puasa Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam menyebutkan puasa Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam yang tidak akan tegak agama itu kecuali dengannya.

Berdasarkan hal tersebut, maka seseorang yang telah mencapai masa baligh dan memenuhi syarat-syarat taklif ‘pembebanan syariat’ padanya, wajib untuk melaksanakan perintah puasa Ramadhan ini, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi seorang perempuan, kewajibannya untuk melaksanakan puasa Ramadhan, sebagaimana halnya seorang laki-laki, adalah ketika telah mencapai masa baligh, yang di masa ini tidak ditentukan oleh usia semata, melainkan oleh beberapa faktor:

  • Haidh, yaitu keluarnya darah kotor dari kemaluannya. Bila seorang anak perempuan telah mengalami haidh, meskipun baru berumur 10 tahun, maka telah wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan.
  • Tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan.
  • Umur 15 tahun sebagai batas maksimal seorang anak digolongkan telah baligh jika dua tanda baligh di atas belum muncul. Berarti seorang anak yang telah berusia 15 tahun, walaupun belum haidh dan belum tumbuh bulu di sekitar kemaluannya, dia telah wajib untuk berpuasa Ramadhan.

Juga termasuk kewajiban orang tua untuk memperhatikan keadaan perkembangan anaknya, sehingga jika anak perempuan mereka telah haidh, walaupun dalam usia sekitar 10 tahun misalnya, mereka segera menyuruh anaknya untuk berpuasa.

Wanita muslimah mukallaf, yang terkena kewajiban puasa jika bulan Ramadhan telah tiba, adalah wanita muslimah yang sehat (tidak sakit) dan muqim (berada di negerinya dan tidak dalam keadaan bersafar). Jika dia dalam keadaan sakit atau musafir (sedang dalam perjalanan) di dalam bulan Ramadhan, boleh baginya berbuka puasa, dan wajib baginya untuk meng-qadha` ‘mengganti’ pada hari-hari yang lain (di luar Ramadhan) sebanyak hari berbukanya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Barangsiapadi antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [ Al-Baqarah: 185 ]

Demikian pula halnya, seseorang yang menjumpai (mendapati) bulan Ramadhan sedang usianya telah sangat lanjut dan lemah sehingga tidak kuat lagi untuk berpuasa, atau seseorang yang sakit dan tidak ada harapan lagi untuk sembuh dari penyakitnya pada waktu kapan pun, maka dia boleh berbuka puasa, tetapi untuk setiap hari berbukanya, dia berkewajiban untuk memberi makan seorang miskin. Hal inilah yang dinamakan fidyah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Dan wajib, bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” [ Al-Baqarah: 184 ]

2. Wanita yang Terkena Pengecualian dari Kewajiiban Puasa Ramadhan

Pertama , wanita haidh dan nifas.

Wanita yang sedang mengalami masa haidh dikecualikan dari kewajiban berpuasa, bahkan wajib baginya untuk meninggalkan puasa ketika sedang haidh, dan puasa yang dikerjakan oleh wanita haidh batal dengan datangnya haidh. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَإِذَاحَاضَتْلَمْتُصَلِّوَلَمْتَصُمْفَذَلِكَنُقْصَانُدِيْنِهَا

“Bukankah juga seorang wanita mengalami haidh, dia tidak shalat dan tidak berpuasa. Itulah (bentuk) kurangnya dien ‘agama’nya.” Hadits riwayat Bukhary-Muslim dari shahabat Abu Sa’id Al Khudry radhiyallaahu ‘anhu.

Dan telah ada ijma’ ulama bahwa wanita yang haidh wajib meninggalkan shalat dan puasa, sebagaimana dinukil oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 2/351 bahwa beliau berkata, “Umat telah sepakat bahwasanya diharamkan, atas wanita yang haidh, shalat wajib maupun sunnah, dan mereka (umat) sepakat akan jatuhnya (hilangnya) kewajiban shalat atas wanita haidh tersebut. Maka dia tidak perlu mengganti shalatnya jika telah bersih. Berkata Abu Ja’far Ibnu Jarîr di dalam kitabnya, Ikhtilaaful Fuqahaa` , ‘ Umat telah sepakat bahwa wajib bagi wanita haidh untuk meninggalkan semua shalat, baik yang fardhu (wajib) maupun yang sunnah, dengan (meninggalkan) semua puasa, baik yang fardhu maupun yang sunnah, dan meninggalkan thawaf, baik yang fardhu maupun yang sunnah, dan bahwa jika wanita haidh tersebut mengerjakan shalat atau berpuasa atau thawaf, dia tidak akan mendapatkan pahala dari amalan fardhu maupun sunnahnya sama sekali .’ .” Hal serupa juga dinukil oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Minhaaj 1/637.

Wajib bagi wanita tersebut untuk meng-qadha` ‘mengganti’ puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadhan pada hari-hari yang lain, tetapi tidak perlu meng-qadha` shalatnya. Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa ditanya oleh seorang wanita yang bernama Ma’aadzah, “Kenapa wanita yang haidh meng-qadha` puasanya dan tidak meng-qadha` shalatnya?” Beliau menjawab,

كُنَّانُؤْمَرُبِقَضَاءِالصَّوْمِوَلاَنُؤْمَرُبِقَضَاءِالصَّلاَةِ

“Kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau radhiyallaahu ‘anhaa menjelaskan bahwa perkara ini termasuk tauqifiyah, yakni harus mengikuti nash-nash yang ada (bukan berdasarkan akal pikiran).

Seorang wanita yang haidh mulai berhenti berpuasa sejak keluarnya darah haidh dan sejak itu pula puasanya batal dan tidak boleh diteruskan, meskipun tersisa beberapa saat waktunya dari waktu tenggelamnya matahari (berbuka puasa).

Jika haidhnya sudah selesai, dia mulai berpuasa dengan ketentuan:

  • Kalau haidhnya berhenti sebelum terbitnya fajar (bukan matahari), dia berniat untuk berpuasa lalu mulai berpuasa, meskipun dia belum sempat mandi bersih sampai terbitnya fajar dan sejak itu puasanya terhitung, sebagaimana hal ini dinukil oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullaah dalam Fathul Baary 4/192 dari jumhur ahli ilmu, juga Al-Qurthuby rahimahullaah dalam Tafsir -nya ketika menjelaskan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala,

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.&rdq

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: